kontraktor rumah dan bangunan

Kontraktor Rumah dan Bangunan Terpercaya Profesional dan

Diposting pada

Paket Jasa Djuragan Kontraktor Rumah dan Bangunan Terpercaya

 

Djuragan kontraktor sebagai jasa bangun rumah juga membuka beberapa jasa lainnya yang mungkin akan membantu Anda dalam mewujudkan Rumah Idaman. Antara lain:

  • jasa kontraktor rumah
  • kontraktor rumah jakarta
  • kontraktor rumah terbaik
  • kontraktor rumah murah
  • jasa kontraktor rumah jakarta
  • kontraktor rumah mewah
  • kontraktor rumah terbaik di indonesia
  • harga kontraktor rumah

 

silahkan tanya tanya dulu juga boleh 🙂

Klik pada gambar untuk chat melalui whatshapp


Keuntungan Menggunakan Kontraktor Rumah

  • Telah dipercaya lebih dari puluhan perusahaan sejak Tahun 1998 hingga saat ini.

  • Sudah mengerjakan berpuluh-puluh bangunan rumah

  • Dikerjakan tukang yang ahli dan berpengalaman

  • Pengerjaan rapi dan memuaskan

  • Pengerjaan bangunan di dampingi Mandor yang profesional setiap hari sehingga pengerjaan lancar dan aman.


Alamat Kontraktor Rumah

Telp : 0852-2937-5665
Hari Operasional : Senin – Sabtu 

Jam Operasional : 8 pagi – 5 sore

Office : Kedusan Rt 5 Rw 7, Karangmalang, Masaran, Kab. Sragen

jl. Solo-Sragen Km. 16


Seperti biasanya djuragan Kontraktor akan berbagi Tips maupun Informasi terkain tentang, jasa bangun rumah, biaya bangun rumah, dll. kali ini kita akan membahas Bagaimana Memaksimalkan Lahan Minimalis.


 

Baca Juga : Jasa Bangun Rumah Minimalis Profesional-Terpercaya-Bergaransi

 


Pengertian LAHAN MINIMALIS DAN FENOMENANYA


Sebelum dibahas tentang pengolahan hunian di atas lahan yang minimalis, ada baiknya digali lebilh dalam seputar hal tersebut.

Beberapa pertanyaan yang sering muncul antara lain: apa yang mendasari kemunculannya bagaimana sebuah lahan bisa disebut minimalis, hingga lahan minimalis seperti apa yang banyak ditemui di lingkungan masyarakat?

Lahan berukuran minimalis pada mulanya muncul akibat adanya suatu golongan masyarakat yang dikenal dengan sebutan “kaum urban”.

Kalangan ini muncul akibat pergerakan roda ekonomi yang cepat di perkotaan sehingga menciptakan sekelompok orang yang memiliki aktivitas dan karakter serupa, yaitu serba cepat, praktis, fungsional, dan ekonomis.

Berikut ini akan dibahas lebih mendalam tentang hubungan antara menjamurnya kaum urban dengan lahan hunian yang minimalis


  1. FENOMENA MASYARAKAT URBAN Selama ini sering didengar istilah urban, urbanisasi, dan desain urban. Apakah sebenarnya makna dari istilah tersebut?

Menurut Oxford Dictionary, urban dapat diartikan sebagai kata sifat yang berhubungan dengan kota atau perkotaan.

Dengan begitu, masyarakat urban berarti sekumpulan orang yang bertempat tinggal di kota dan memiliki karakter yang erat dengan kehidupan perkotaan

Karakter perkotaan dapat dijabarkan ke dalam beberapa aktivitas, kebiasaan, atau kultur yang melekat dalam setiap pribadi yang hidup di kota.

Hal ini erat hubungannya dengan gaya hidup, lingkungan, hubungan antarindividu, dan sistem tata kota.

Secara umum, tatanan wilayah di suatu tempat bisa dibagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu urban, suburban, dan rural.

Urban, yaitu kota berpopulasi besar dengan berbagai aktivitas ekonomi dan bisnis di dalamnya. Di Indonesia, wilayah seperti ini biasa disebut sebagai kota atau kotamadya.

Suburban, yaitu wilayah yang berada di sekitar kota besar. Biasanya area ini berukuran lebih kecil dengar tingkat kepadatan yang tak setinggi wilayah perkotaan. Di Indonesia, wilayah ini biasa disebut sebagai kabupaten.

Rural, yaitu wilayah yang jauh lebih kecil dibandingkan daerah urban. Aktivitas penduduknya sebagian besar berfttani, beternak, melaut, atau hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan hasil alam lainnya. Wilayah ini bisa disebut juga sebagai desa.

hasıl alam lainnya. Wilayah ini bisa disebut juga sebagai desa. Wilayah urban tentu memiliki tingkat kemajuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua wilayah lainnya, baik dari segi teknologi, pendidikan, maupun infrastruktur.

Oleh karena itu, terjadilah sebuah fenomena yang disebut sebagai urbanisasi, yaitu perpindahan masyarakat desa ke kota.

Hal ini biasanya didukung oleh keinginan untuk memperbaiki hidup karena fasilitas yang tersedia di wilayah perkotaan tentu lebih memadai dibandingkan pedesaan.

Setiap tahun arus urbanisasi semakin deras sehingga jumlah penduduk di perkotaan pun meningkat. Padahal lahan yang tersedia di perkotaan tidak berubah.

Akibatnya, penduduk kota mulai kekurangan lahan untuk tempat tinggal. Hal ini juga disebabkan banyaknya lahan di lingkungan perkotaan yang cenderung dimanfaatkan sebagai area bisnis, hiburan, dan sarana untuk mencari keuntungan lainnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, muncullah sebuah solusi yang disebut sebagai desain urban, yang muncul dari kreativitas para arsitek dan desainer di kota-kota besar dunia.

Desain urban merupakan perancangan sebuah kota dengan mempertimbangkan karakter dan aktivitas manusia di dalamnya.

Dalam lingkup yang lebih kecil, desain urban dapat diterapkan ke dalam hunian atau tempat tinggal.

Dengan Desain dan ilustrasi: Widya Paramita memperhitungkan kebiasaan dan perilaku kaum urban, lahan yang minim dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga menjadi sangat efisien.

Sebelum mulai merancang, ada baiknya dipelajari karakter masyarakat urban sebagaimana yang dilakukan para arsitek dan desainer. Berikut ini beberapa ciri dari karakter kaum urban.

  1. Memiliki aktivitas yang padat. Penduduk perkotaan mayoritas merupakan pekerja swasta yang memiliki jam kerja tak menentu. Jadi, pada siang hari hunian dipastikan hanya ditempati oleh wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga atau pembantu rumah tangga (jika ada)

 

  1. Anggota keluarga cenderung sedikit. Umumnya, peninat hunian mungil adalah pasangan muda dengan 1-2 anak. Tak menutup kemungkinan adanya keluarga dengan jumlah anak lebih darĂ­ dua, tetapi sebagian besar kaum urban menghindarĂ­ jumlah anggota keluarga yang terlalu besar dengan alasan kepraktisan.

 

  1. Berkaitan dengan dua poin sebelumnya, kaum urban cenderung menyukai segala sesuatu yang praktis dan ringkas. Selain menghemat waktu, hal ini juga dapat menghemat biaya.

 

  1. Aktivitas tidak banyak dilakukan di dalam rumah, kecuali pada akhir pekan. Bahkan, tak jarang kaum urban cenderung menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan dan tempat rekreasi. Dengan demikian, rumah cenderung dijadikan sarana untuk beristirahat semata

 

  1. Memiliki tingkat stres yang cukup tinggi akibat tekanan pekerjaan dan kondisi jalanan yang padat.

 

  1. Menyukai hal-hal yang berbau modern atau berkaitan dengan tren terbaru.

 

  1. Kurang memiliki perhatian terhadap sekitar. Terkadang. penduduk di satu areal perumahan bahkan tidak saling mengenal. Hal ini berkaitan dengan padatnya aktivitas di luar rumah.

 

Berbagai ciri tersebut, bila diterapkan dalam desain, akan membentuk suatu karakter hunian yang berbeda dengan umumnya.

Hal ini dikarenakan rumah adalah bangunan yang merepresentasikan karakter pemiliknya. Oleh karena itu, sebisa mungkin calon penghuni harus terlibat dalam perancangan hunian.

Akan tampak lucu bila kaum urban menempati kediaman bergaya klasik yang rumit, misalnya. Seseorang yang berkarakter halus dan tenang juga akan kurang pas bertempat tinggal dalam suatu bangunan kontemporer yang dipenuhi permainan bidang. volume, dan warna.

Jika hal tersebut dipaksakan, hasilnya akan muncul perasaan tak nyaman karena adanya perbedaan karakter.

Seperti ketika memilih teman atau sahabat, secara tak sadar kemiripan sifat atau karakter akan mendasari hubungan perternanan yang baik.

Ketika mendesain rumah dalam karakter apa pun, yang pertama kali harus diperhatikan adalah penggunanya. Rumah dibangun untuk ditempati, bukan hanya berada di atas kertas gambar. Artinya, buatlah desain sefungsional mungkirn sesuai dengan karakter dan kebutuhan penggunanya. Oleh karena itu, sebagai bagian dari masyarakat urban, lakukan penjabaran karakter hunian berdasarkan ciri-ciri penggunanya. Berikut contohnya.

  • Memiliki aktivitas yang sangat padat. Padatnya rutinitas kaum urban membuat mayoritas penghuni berada di luar rumah pada siang hari, terlebih keluarga dengan istri yang bekerja, tanpa menyewa jasa pekerja rumah tangga (PRT).

 

Oleh karena itu, hunian harus cukup aman untuk dibiarkan tanpa penghuni. Desain rumah berkarakter “terbuka” dengan dinding kaca transparan tentu perlu dihindari untuk mencegah pencurian, kecuali bila lingkungan tempat tinggal memiliki perlindungan keamanan yang baik.


  1. Memiliki jumlah anggota keluarga yang cenderung sedikit. Hal ini menjadi keuntungan bagi yang memiliki hunian di lahan yang terbatas.

 

Artinya, luas lahan dapat dimanfaatkan dengan optimal. Jumlah furnitur seperti kursi, sofa, dan perabotan lainnya dapat diminimalkan agar tersedia ruang gerak yang lebih lapang.


3) Menyukai hal-hal yang bersifat praktis, ringkas, hemat waktu, dan hemat biaya. Sesuatu yang memiliki empat karakter di atas banyak digemari kaum urban.

Oleh karena itu, desain urban harus mampu memudahkan pergerakan manusia dalam ruangan. Ornamen dan detail yang rumit dan memperslit aktivitas banyak dihindari.

Fasilitas penyimpanan lebih banyak bertipe tertutup agar senantiasa rapi tanpa harus mengeluarkan banyak energi untuk merapikan rumah.


4) Menjadikan rumah hanya sebagai tempat beristirahat. Tak banyak waktu yang dihabiskan di dalam rumah setiap harinya.

Penghuni cenderung menghabiskan waktu dalam perjalanan, di tempat kerja, atau tempat-tempat hiburan.

Hunian urban sebaiknya mampu menyediakan sarana untuk beristirahat dengan menciptakan suasana yang tenang, damai, dan mampu merelaksasi pikiran penghuninya ketika berada di dalamnya.

Keberadaan air dan tumbuhan segar dapat menjadi solusi. Hal ini berkaitan pula dengan poin berikutnya, mengenai tingkat stres yang tinggi.


5) Memiliki tingkat stres yang tinggi. Tekanan di dunia kerja dan lingkungan sekitarnya membuat kalangan urban cenderung terkena stres, depresi, atau hipertensi.

Oleh karena itu, hunian yang tepat sebaiknya mampu meredam emosi dengan menghindarkan segala elemen yang berpotensi untuk memicu tekanan.

Manfaatkan elemen alam untuk mereduksi kekacauan pikiran akibat kerumitan lingkungan perkotaan.


6) Kurangnya interaksi sosial. Rumah untuk kalangan urban sebaiknya mampu menstimulasi terciptanya komunikasi antartetangga.

 

Hal ini bisa dilakukan dengan membuat desain rumah yang “ramah’;, tidak terlalu tertutup, tetapi tetap menjaga privasi dan keamanan.

Salah satu bentuk aplikasinya adalah dengan lebih memilih menggunakan pagar tanaman yang cantik daripada menggunakan pagar tinggi berduri.

Setiap rumah yang didesain dengan serius akan memiliki karakter tersendiri. Dalam kasus hunian masyarakat urban, kekuatan karakternya tampak pada aspek fungsi.

Bandingkan dengan rumah pada era kolonial yang lebih banyak menekankan dekorasi dan sifat monumental, yang tampak dari banyaknya hiasan serta ukuran ruangan yang sangat luas dengan plafon yang sangat tinggi.

Sementara itu, rumah berdesain urban cenderung lebih mungil, sebatas memenuhi standar ukuran dan fungsi yang dibutuhkan.

Elemen dekoratif ditonjolkan sebagai bagian dari fungsi tersebut, Intinya, karakter sebuah hunian urban tetap berkiblat pada ciri-ciri yang dimiliki penghuninya, yaitu penyederhanaan fungsi, dekorasi, darn elemen lainnya yang terkait.

Segala sesuatu yang multifungsi, tak memakan banyak tempat, dan mudah dioperasikan adalah dasar dari desain urban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *